Bruno Fernandes dan Dagelan Terbaru Ed Woodward

Klikmerdeka.com - Aaron Wan Bissaka adalah angin segar yang begitu lama ditunggu kedatangannya oleh para suporter Manchester United. Dia tidak cuma datang sebagai seorang pemain belakang muda potensial, tetapi sebuah pertanda bahwa Manchester United memang serius membenahi skuatnya.

Memang sudah sangat lama sejak Manchester United punya sosok bek kanan yang bisa diandalkan. Setelah Gary Neville gantung sepatu, United sempat punya Rafael da Silva yang kala itu memiliki potensi besar. Namun, pemain asal Brasil itu lebih kerap berkutat dengan cedera dan akhirnya gagal memenuhi ekspektasi.

Semenjak itulah United tak lagi punya bek kanan andalan. Mereka bukannya tidak berusaha, tetapi usaha-usaha mereka kerapkali berujung sia-sia. Akhirnya, Luis Antonio Valencia pun terpaksa meninggalkan pos favoritnya sebagai gelandang sayap untuk mengatasi masalah di sisi kanan pertahanan United.

Namun, Valencia pun akhirnya habis digerogoti usia dan cedera. Sebagai solusi, United pun memindahkan Ashley Young ke sana. Mereka sebetulnya memiliki sosok Diogo Dalot tetapi pemain asal Portugal itu masih terlalu hijau sehingga Young pun dipaksakan bermain di posisi yang tak natural baginya.

Dari semua itu hasilnya bisa terlihat. Young, yang juga tidak lagi muda, kesulitan. Dia pun menjadi pesakitan. Tak jarang cacian meluncur dari mulut para suporter ke arahnya, termasuk pada laga pramusim di Singapura akhir pekan lalu. Namun, dengan keberadaan Wan Bissaka yang dicaplok dari Crystal Palace, fan United rasanya tak harus kerap-kerap melihat keberadaan Young di atas lapangan.

Bagi suporter Manchester United, Wan Bissaka adalah simbol perubahan. Perubahan yang ditunjukkan manajemen dengan keseriusan dalam memburu target berikutnya, Harry Maguire. Meski berharga selangit, bek Leicester City itu dinilai layak jadi pemain United berkat kemampuannya menggalang pertahanan. Maguire dipandang sebagai sosok yang pas untuk menjadi rekan sekaligus mentor Victor Lindeloef di jantung pertahanan.

Sampai saat ini transfer Maguire memang masih jauh dari kata selesai. Penyebabnya, tak lain, karena Leicester sendiri tidak rela melepas dirinya. The Foxes tidak harus menjual Maguire karena mereka memang tidak punya kebutuhan finansial mendesak. Namun, United sendiri belum menyerah dan ini adalah indikasi bahwa mereka memang serius membenahi lini belakang.

Dari sini Manchester United tampak sudah berada dalam trek yang tepat. Setidaknya, mereka sudah menyadari bahwa investasi memang diperlukan untuk kembali bisa bersaing. Musim lalu United kemasukan sampai 54 gol dan jumlah ini adalah yang terbanyak di antara tim-tim enam besar.

Kendati begitu, lini belakang bukan satu-satunya masalah United karena lini depan mereka pun tumpul. Dari 38 laga mereka hanya mampu mengemas 65 gol. Dengan selisih gol hanya +11 tak heran jika mereka cuma mampu finis di urutan keenam.

Rendahnya angka memasukkan dan tingginya angka kemasukan ini menjadi indikasi bahwa persoalan terbesar United sejatinya ada di lini tengah. Ini berarti United tidak pernah bisa mengontrol pertandingan dengan baik. Oleh karena itu, mereka pun membutuhkan seorang pemain yang sanggup melakukan itu. United butuh seorang pengatur permainan yang mampu membuat lini tengah mereka hidup.

Masuklah nama Bruno Fernandes.

Sebagai seorang gelandang, Fernandes memiliki kemampuan komplet. Atribut menyerangnya memang lebih dominan di mana musim lalu dia mampu terlibat dalam terciptanya 33 gol Sporting CP di Primeira Liga. Dengan 20 gol dan 13 assist yang dia ciptakan, kemampuan Fernandes sebagai gelandang serang rasanya tak perlu lagi diragukan.

Namun, Fernandes rupanya tidak cuma piawai dalam menyerang. Pemain 24 tahun tersebut juga mau melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor untuk mengamankan lini tengah timnya. Tercatat, dalam satu pertandingannya dia bisa membukukan sampai 1,7 tekel dan melakukan 1,6 pelanggaran. Ini artinya, Fernandes memang sosok yang dibutuhkan oleh Manchester United.

Dalam skuat Manchester United saat ini, praktis hanya Juan Manuel Mata yang bisa disebut sebagai seorang pengatur permainan. Akan tetapi, Mata sudah mulai menua. Selain itu, pemain asal Spanyol itu juga terlalu stylish dan jarang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan kotor di lini tengah.

Dengan gaya bermain seperti itu, Mata pun sebenarnya tidak punya tempat di formasi 4-3-3 milik Ole Gunnar Solskjaer. Mata adalah pemain nomor 10 klasik yang area operasinya terbatas, sementara Fernandes adalah pemain yang bisa bermain baik sebagai nomor delapan maupun nomor sepuluh. Dengan kata lain, Fernandes memang seorang gelandang serang, tetapi area operasinya berada di tengah lapangan, bukan di belakang striker.

Kedatangan Fernandes akan membuat lini tengah Manchester United kembali utuh. Dengan asumsi bahwa Paul Pogba bakal bertahan, masuknya Fernandes membuat United punya tiga jenis pemain di lini tengahnya. Mereka punya pemain jangkar seperti Scott McTominay dan Nemanja Matic, gelandang box-to-box seperti Pogba, serta pengatur permainan dalam diri Fernandes.

Inilah mengapa, Fernandes adalah pemain yang wajib juga didatangkan oleh Manchester United pada bursa transfer kali ini. Mantan pemain Udinese itu mampu menawarkan banyak hal yang tidak bisa diberikan pemain-pemain United lainnya saat ini. Hanya dengan keberadaan pemain seperti Fernandes-lah The Red Devils bisa punya kans untuk berprestasi lebih baik.

 

Bruno Fernandes (kanan) dan Denzel Dumfries mengejar bola di pertandingan final UEFA Nations League. Foto: AFP/Gabriel Bouys

 

Akan tetapi, hingga kini proses transfer Fernandes pun berjalan berlarut-larut. Alasannya sederhana, yaitu karena manajemen Manchester United belum bisa memenuhi valuasi yang ditetapkan oleh manajemen Sporting CP. Apa yang terjadi pada Fernandes ini sama dengan apa yang terjadi dalam kasus transfer Wan Bissaka dan Maguire.

Dalam struktur organisasi Manchester United saat ini memang belum ada sosok direktur olahraga yang secara khusus berfungsi untuk merekrut pemain. Sampai sejauh ini, Ed Woodward masih jadi orang yang bertanggung jawab atas transfer pemain United meskipun input akan kebutuhan pemain secara langsung datang dari tim kepelatihan pimpinan Solskjaer dan Mike Phelan.

Dari transfer Wan Bissaka dan usaha mendapatkan Maguire serta Fernandes ini sudah tampak bagaimana pengaruh Solskjaer dan Phelan. Nama-nama itu, plus Daniel James, merepresentasikan ide sepak bola yang ada di benak Solskjaer dan Phelan. Mereka ingin United yang lebih agresif, atraktif, dan bertenaga. Pemain-pemain itu mampu memberikannya.

Namun, sekali lagi, ketiadaan sosok direktur olahraga menghambat segalanya. Ini terlihat bagaimana United selalu kesulitan menerka harga pasar seorang pemain. Dalam kasus Fernandes, tawaran awal 35 juta euro yang disiapkan untuk Sporting CP bisa menjadi contoh. Bagaimana mungkin, di pasar pemain yang harganya sudah mengalami lonjakan gila-gilaan seperti ini, sosok macam Fernandes cuma dihargai sekian? Ini dagelan macam apa?

Perlu dicatat bahwa angka 35 juta itu bukanlah nilai tawaran resmi dari United kepada pihak Sporting CP. Angka tersebut merupakan valuasi awal yang diberikan 'Iblis Merah' terhadap pemain incarannya tersebut. Tentu saja, nilai tersebut tidak masuk akal dan United pun saat ini kabarnya telah menyiapkan tawaran resmi senilai 56 juta euro.

Nyatanya, nilai tersebut tetap dirasa kurang oleh manajemen Sporting CP. Lewat Presiden Federico Varandas, Sporting CP menyatakan tidak akan menjual Fernandes dengan harga sekian pula.

 

Bruno Fernandes merayakan gol untuk Sporting CP di final Piala Portugal. Foto: AFP/Patricia de Melo Moreira

"Aku tidak tahu apakah ada ketertarikan dari klub lain. Yang kutahu, di media sudah sering muncul nilai si pemain. Ada yang menyebut 55 juta euro, ada pula 62 juta euro, dan dengan nilai sekian si pemain tidak akan pergi. Kalau Bruno Fernandes pergi, kami akan mencari pengganti berkualitas, tetapi itu hanya akan kami lakukan kalau Bruno pergi," kata Varandas, dilansir Manchester Evening News.

Dari pernyataan itu tersirat satu hal. Yakni, bahwa Sporting CP tidak akan ngotot mempertahankan Fernandes. Kalau harganya cocok, mereka akan rela-rela saja melepas penggawa Timnas Portugal tersebut. Namun, kalau tawaran yang muncul adalah tawaran yang disodorkan Manchester United, dia tidak akan pergi.

Dengan demikian, kesimpulannya dari sini adalah bahwa Woodward merupakan sosok yang menghambat kemajuan Manchester United. Di saat Solskjaer dan Phelan sudah menentukan filosofi seperti apa yang akan jadi dasar permainan klub dan pemain mana saja yang dibutuhkan, ada Woodward yang membuat pemain-pemain incaran sulit didapat.

Perlu diketahui bahwa bursa transfer Premier League akan tutup lebih cepat mulai tahun ini. Per 10 Agustus nanti klub-klub tidak akan bisa lagi membeli pemain baru. Itu artinya, Manchester United tidak punya waktu banyak. Mereka harus segera merampungkan transfer Fernandes serta Maguire dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Jika proses negosiasi transfer terus berlarut-larut, ada dua kemungkinan yang dihadapi United nantinya. Pertama, mereka akan gagal mendapatkan Maguire dan Fernandes. Kedua, mereka bakal mendapatkan mereka tetapi dengan harga yang jauh lebih tinggi lagi. Kedua skenario ini, tentu saja, tidak ideal bagi kelangsungan klub.( KMP )

Loading...

More Articles