Dulu 2016 Jokowi Tolak Gratiskan Suramadu, Jelang Pilpres 2019 Baru Digratiskan

Upaya untuk menggratiskan penggunaan jembatan Suramadu bukanlah hal baru, karena Gubernur Jatim pernah mengusulkan, namun ditolak Jokowi.


Gubernur Soekarwo (Pakde Karwo) pada Januari 2016 lalu, pernah mengusulkan agar Tol Suramadu digratiskan. Bahkan, saat Presiden Jokowi berkunjung ke Madura meresmikan kapal pengangkut sapi, para kiai di Madura sudah mengusulkan hal ini namun ditolak.

[2016]
Jokowi Tolak Usulan Pakde Soal Tol Suramadu Gratis
http://beritajatim.com/politik_pemerintahan/258486/jokowi_tolak_usulan_pakde_soal_tol_suramadu_gratis.html

NAMUN menjelang Pilpres 2019 tol Suramadu akhirnya digratiskan pemerintah.

Tidak cuma digratiskan, bahkan dibuat SEREMONIAL luar biasa layaknya UPACARA PERESMIAN pertama kali.

Padahal penggratisan Suramadu cukup diumumkan oleh Kementerian.

Tapi ini Presiden beserta jajarannya menggelar SEREMONI.

Tentu saja banyak pihak mengaitkan keputusan ini adalah keputusan politik terkait suara pilpres di Madura karena dilakukan pada saat kontestasi pilpres sedang berlangsung.

Pertanyaannya, mengapa Pemerintah melalui presiden Jokowi tidak melakukannya pada 2016 atau pada 2017, melihat usulan Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang telah mengajukan berulang kali namun ditolak.

Motif politik dibalik peresmian penggratisan Suramadu makin kencang berhembus, bersamaan dengan dekatnya tahun pemilihan.

Mungkin, kalau penggratisan itu tidak dengan peresmian, mungkin motif politik tidak terlalu santer mengemuka, ditambah jembatan Suramadu adalah hasil proyek infrastruktur presiden SBY, ada kesan dibalik peresmian tersebut menjadi ajang rebutan simpati pemilih.

Pilpres memang terkait berebut simpati pemilih, termasuk peresmian penggratisan jembatan Suramadu yang mengincar simpati pemilih dari rakyat Madura,

Seperti diketahui, pada Pilpres 2014 lalu Prabowo menang telak di Madura.

Link: https://nasional.sindonews.com/read/884045/113/prabowo-hatta-menang-telak-di-madura-1405610388

Keunggulan perolehan suara Prabowo-Hatta di Pipres 2014 sangat signifikan dibandingkan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Total perolehan suara Prabowo-Hatta se-Madura sebanyak 830. 968, sementara Jokowi-JK berjumlah 692.631 suara. Berarti Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK.


Seperti di Kabupaten Bangkalan, Prabowo-Hatta meraup 644.608 suara dan Jokowi-JK dapat 149.258 suara. Untuk Kabupaten Sampang Prabowo-Hatta raih 474.752 suara, sementara Jokowi-JK dapat 162.785 suara.

Di Kabupaten Pamekasan, Prabowo-Hatta dapat 378.652 suara dan Jokowi-JK meraih 135.178 suara. Di Kabupaten Sumenep Prabowo-Hatta dapat 332.956 suara dan Jokowi-JK raih 245.410 suara.

Tidak ada makan siang gratis, kini nama Jokowi akan disebut sebagai orang paling berjasa menggratiskan Suramadu, padahal rekam jejak permintaan penggratisan tersebut sudah diajukan sejak 2016 namun ditolak pemerintah Jokowi.

Kalau benar, seperti klaim Jokowi, bahwa penggratisan Tol Suramadu tak terkait politik, gratiskan juga dong semua jalan Tol biar semua rakyat bisa menikmati, agar keadilan demi mobilitas kesejahteraan rakyat bisa terjadi.

[2016]
Jokowi Tolak Usulan Pakde Soal Tol Suramadu Gratis
http://beritajatim.com/politik_pemerintahan/258486/jokowi_tolak_usulan_pakde_soal_tol_suramadu_gratis.html

NAMUN menjelang Pilpres 2019 tol Suramadu akhirnya digratiskan pemerintah.

Tidak cuma digratiskan, bahkan dibuat SEREMONIAL luar biasa layaknya UPACARA PERESMIAN pertama kali.

Padahal penggratisan Suramadu cukup diumumkan oleh Kementerian.

Tapi ini Presiden beserta jajarannya menggelar SEREMONI.

Tentu saja banyak pihak mengaitkan keputusan ini adalah keputusan politik terkait suara pilpres di Madura karena dilakukan pada saat kontestasi pilpres sedang berlangsung.

Pertanyaannya, mengapa Pemerintah melalui presiden Jokowi tidak melakukannya pada 2016 atau pada 2017, melihat usulan Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang telah mengajukan berulang kali namun ditolak.

Motif politik dibalik peresmian penggratisan Suramadu makin kencang berhembus, bersamaan dengan dekatnya tahun pemilihan.

Mungkin, kalau penggratisan itu tidak dengan peresmian, mungkin motif politik tidak terlalu santer mengemuka, ditambah jembatan Suramadu adalah hasil proyek infrastruktur presiden SBY, ada kesan dibalik peresmian tersebut menjadi ajang rebutan simpati pemilih.

Pilpres memang terkait berebut simpati pemilih, termasuk peresmian penggratisan jembatan Suramadu yang mengincar simpati pemilih dari rakyat Madura,

Seperti diketahui, pada Pilpres 2014 lalu Prabowo menang telak di Madura.

Link: https://nasional.sindonews.com/read/884045/113/prabowo-hatta-menang-telak-di-madura-1405610388

Keunggulan perolehan suara Prabowo-Hatta di Pipres 2014 sangat signifikan dibandingkan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Total perolehan suara Prabowo-Hatta se-Madura sebanyak 830. 968, sementara Jokowi-JK berjumlah 692.631 suara. Berarti Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK.


Seperti di Kabupaten Bangkalan, Prabowo-Hatta meraup 644.608 suara dan Jokowi-JK dapat 149.258 suara. Untuk Kabupaten Sampang Prabowo-Hatta raih 474.752 suara, sementara Jokowi-JK dapat 162.785 suara.

Di Kabupaten Pamekasan, Prabowo-Hatta dapat 378.652 suara dan Jokowi-JK meraih 135.178 suara. Di Kabupaten Sumenep Prabowo-Hatta dapat 332.956 suara dan Jokowi-JK raih 245.410 suara.

Tidak ada makan siang gratis, kini nama Jokowi akan disebut sebagai orang paling berjasa menggratiskan Suramadu, padahal rekam jejak permintaan penggratisan tersebut sudah diajukan sejak 2016 namun ditolak pemerintah Jokowi.

Kalau benar, seperti klaim Jokowi, bahwa penggratisan Tol Suramadu tak terkait politik, gratiskan juga dong semua jalan Tol biar semua rakyat bisa menikmati, agar keadilan demi mobilitas kesejahteraan rakyat bisa terjadi.

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap Presiden Joko Widodo atau Jokowi bisa menjelaskan alasan yang tepat kepada rakyat soal penggratisan retribusi Jembatan Suramadu. “Pemerintah harus menjelaskan dengan baik kepada rakyat agar tidak ada miskomunikasi dan persepsi yang berkepanjangan,” kata  SBY di Yogyakarta, Ahad, 28 Oktober 2018.

Menurut SBY jembatan penghubung Pulau Jawa dan Madura ini awalnya dibangun di era Presiden Megawati. Dalam prosesnya, pembangunan jembatan sempat terhenti. Setelah SBY menggantikan Megawati, pembangunan jembatan dilanjutkan dan diresmikan pada 2009. Jokowi akhirnya menggratiskan retribusi jembatan sepanjang 5.342 meter ini.

SBY berujar kebijakan Jokowi menggratiskan tarif Suramadu tidak bisa buru-buru dikatakan salah. Meskipun di masyarakat timbul pro dan kontra, presiden memiliki kewenangan dan kebijakan mengubah. Termasuk Suramadu yang awalnya ada retribusi menjadi gratis. “Silakan gratiskan, tetapi apa pertimbangannya. Apakah karena ekonomi, sosial atau yang  lain,” kata  SBY.

Menurut SBY di  era seperti ini, rakyat boleh tahu alasan yang mendasari pemerintah dalam membuat kebijakan yaitu menggratiskan retribusi Suramadu. Sebab, banyak wacana untuk menggratiskan jalan tol Jagorawi, ataupun jalan tol Cikampek yang sudah lebih dulu agar rakyat tidak juga terbebani. “Rakyat ingin tahu kenapa digratiskan,” kata SBY.


SBY tidak mau masuk dalam klaim mengklaim sebuah proyek karya pembangunan. Apalagi kemudian dibenturkan dengan kepentingan politik dengan Presiden Megawati ataupun Presiden Jokowi.

“Lebih baik saling menghormati. Kalau pembangunan yang belum selesai, bisa dilanjutkan presiden setelahnya. Sebetulnya (saya) tidak ingin masuk dalam klaim mengklaim karya pembangunan. Saya tidak suka dibentur-benturkan dengan Presiden Jokowi dan Megawati,” tuturnya, seperti dilansir Tempo.

 

https://ayojalanterus.blogspot.com/

Loading...

More Articles