Ini Kesaksian Satpam Gereja, Bom Meledak Saat Umat Berdoa

Ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Raya Arjuno, Minggu (13/5), terjadi saat pembacaan doa sebelum berakhirnya peribadatan.

"Kejadiannya persis saat doa pulang," ujar petugas satuan pengamanan (satpam) gereja Erens A. Ratupa ditemui Antara di lokasi kejadian.

Erens menceritakan peribadatan Misa di gereja tersebut dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, dan berakhir sekitar pukul 07.15 WIB.


Saat ledakan terjadi, kata dia, jemaat sedang khusyuk berdoa. Umat dikejutkan dengan suara ledakan sehingga langsung berhamburan menyelematkan diri masing-masing.

"Semuanya berjubel dan evakuasi sekitar 20 menit. Yang luka-luka segera dilarikan ke poliklinik gereja dan ada yang dibawa ke rumah sakit," tuturnya.

Kata Erens, seorang petugas keamanan yang berjaga di bagian depan, bernama Giri Catur terluka. 

Ketika kejadian, Erens berada di bagian belakang gereja, dan turut membantu mengevakuasi jemaat yang menyelamatkan diri.

Sementara itu, polisi masih mengevakuasi korban, termasuk meledakkan beberapa bom yang masih aktif menggunakan kendaraan jihandak milik Tim Gegana.

Arus lalu lintas untuk dua arah di Jalan Raya Arjuno ditutup total, sedangkan warga yang ingin melihat dari dekat juga masih bertahan, meski sebagian di antaranya dihalau petugas karena masuk area berbahaya.

Keluarga Panik

Ledakan bom membuat sejumlah keluarga umat gereja panik. Mereka mencari kabar tentang kondisi keluarganya. 

Seorang warga Pakis Kota Surabaya terlihat panik saat mencari salah satu keluarganya yang merupakan Jemaat Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuno yang diduga menjadi korban bom. 

Dia mencari keluarganya ke sejumlah rumah sakit di Kota Pahlawan, Minggu (13/5).

"Saya sudah mencari tante saya di tiga rumah sakit di Surabaya, tapi belum menemukan," kata seorang warga Pakis, Linke saat mendatangi Rumah Sakit Bedah, Jalan Manyar Surabaya.

Linke terlihat mondar-mandir di RS Bedah. Ia bingung harus mencari kemana tantenya bernama Derbin yang berusia sekitar 70 tahun itu.

Ia mengaku sudah mencari ke gereja GPPS Jalan Arjuno tempat biasanya tantenya melakukan peribadatan di gereja tersebut. Hanya saja, lanjut dia, pihak gereja menyarankan agar dia mencari ke sejumlah rumah sakit yang menangani korban bom.

"Biasanya kalau selesai dari gereja langsung pulang, tapi sampai sekarang belum pulang," katanya.

Pada saat mendatangi Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo, Linke diberitahu bahwa tantenya tidak ada.

Dia kemudian disarankan mencari tantenya di Rumah Sakit William Booth Surabaya dan Rumah Sakit Dr. Soetomo.

"Tapi di dua rumah sakit itu juga tidak ada, terus saya mencarinya di RS Bedah juga belum ada," katanya.

Dirut RS Bedah Surabaya Priyanto Suasono mengatakan pihaknya merawat 16 korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Jalan Ngagel Madya Kota Surabaya.

Loading...

More Articles