Jari Tengah Taison untuk Rasialisme

Klikmerdeka.com - Shakhtar Donetsk memang berhasil mengalahkan Dynamo Kyiv dalam partai klasik Liga Primer Ukraina, akhir pekan lalu, tetapi dua pemain mereka, Taison dan Dentinho, harus menjadi korban pelecehan rasial suporter lawan.

Pertandingan yang digelar di Kharkiv itu dimenangi Shakhtar dengan skor 1-0 dan saat pelecehan itu terjadi mereka telah berada dalam posisi unggul. Gol dicetak bek Serhiy Kryvtsov pada menit ke-18, sementara pelecehan itu terjadi di menit ke-74.

Pelecehan terjadi ketika Taison dianggap melakukan pelanggaran saat tengah berebut bola dengan seorang bek Dynamo. Usai peluit wasit menyalak, suporter Dynamo menyerang Taison dengan kata-kata tidak pantas dari tribune.

Taison kemudian merespons dengan menendang bola ke arah tribune dan mengacungkan jari tengahnya. Dia pun, bersama Dentinho, sampai menangis dan harus ditenangkan para pemain lain di lapangan.

Pertandingan sendiri sempat terhenti akibat kejadian itu. Namun, wasit kemudian membuat keputusan mengejutkan. Ketika memulai kembali pertandingan di menit ke-82, dia melayangkan kartu merah kepada Taison yang tampak terkejut.

Kejadian ini menyita perhatian mantan pemain Shakhtar yang kini memperkuat Chelsea, Willian Borges. Jelang pertandingan antara Brasil dan Argentina, Willian berkata, "Ini adalah episode menyedihkan terbaru di sepak bola."

"Kami para pemain harus melakukan segala yang kami mampu agar ini semua berhenti, tetapi institusi dan federasi yang ada punya tanggung jawab lebih besar dalam mengatasi masalah ini."

"Mereka harus menangani masalah ini dengan menerapkan sanksi yang tepat untuk mencegah hal seperti ini terjadi lagi. Situasi ini membuatku sedih," tambah pemain yang pernah jadi rekan setim Taison di Shakhtar itu.

Taison sendiri sudah membahas pelecehan itu lewat pernyataan di akun Instagram-nya. Dia bersumpah tidak akan membiarkan intoleransi membungkam dirinya.

"Aku mencintai rasku, aku bertempur untuk warna ini, apa pun yang kulakukan adalah untuk kita semua, untuk rasa cinta. Aku tidak akan berdiam diri di hadapan tindakan keji dan tak manusiawi seperti itu!" tulis Taison.

"Air mataku tumpah karena aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu. Namun, dari awal kami sudah diajari untuk melawan. Kami harus melawan untuk kesetaraan. Tugasku adalah untuk melawan dan terus melawan!"

"Dalam masyarakat yang rasialis, tidak cukup untuk sekadar tidak bersikap rasialis. Kita semua harus melawan rasialisme. Sepak bola dan dunia ini butuh rasa hormat. Terima kasih kepada semua yang telah mendukung diriku. Kita lanjutkan perlawanan ini," lanjutnya.

Pernyataan sebelumnya juga sudah muncul dari kapten Shakhtar, Andriy Pyatov. Kiper veteran Ukraina ini menyatakan bahwa tindak rasialisme itu juga menyakiti seorang pemain Dynamo, Gerson Rodrigues.

"Baru pertama kali aku melihat hal seperti itu. Aku tidak mengira orang bisa sejahat itu. Kami sudah bicara soal itu dengan pemain Dynamo karena mereka pun punya pemain dari negara lain di timnya," tutur Pyatov.

"Aku melihat Rodrigues juga tampak terpukul karena ini juga memengaruhi dirinya. Wasit ketika itu bilang bahwa dia akan menghentikan pertandingan kalau sampai ini terjadi lagi," tambah pemilik 92 caps Timnas Ukraina itu.

Kejadian nyaris serupa terjadi di Italia sepekan sebelumnya ketika Mario Balotelli jadi sasaran pelecehan rasial suporter Hellas Verona. Balotelli kala itu juga menendang bola ke arah tribune tetapi tidak diusir oleh wasit. Bahkan, penyerang Brescia itu kemudian mampu mencetak gol indah.

Loading...

More Articles