Kesaksian Marco Polo saat Berangkat Bersama Pasukan Monggol Menyerbu Singosari

Kertanegara Raja Singosari menolak takluk kepada Monggol, sudah banyak dirawi para sejarawan. Tapi, tahukah Anda bahwa Marco Polo, petualang legendaris Abad Pertengahan, saksi dari perseteruan antara Monggol dan Jawa?

Kertanegara berang ketika Meng Ki, utusan Monggol menyampaikan maksud kedatangannya.

Raja Jawa itu enggan bayar upeti. Bahkan, sebagai kode tantangan, hidung dan telinga Meng Ki dipotong. Dan lalu dilepas pulang ke negeri asalnya.

Kaisar Khubilai Khan meladeni tantangan Raja Kertanegara. Pendiri dan penguasa Dinasti Yuan itu mengirim ekpedisi ke Jawa.

Marco Polo petualang dari Venesia, Italia semasa itu berada di Monggol. Dalam catatan hariannya, dia mencatat… 

Pelabuhan Zaitun, 1292…

Tiga buah kapal berangkat dari Pelabuhan Zaitun (Amoy). Satu di antaranya akan membawa rombongan kami ke Persia.

 

Aku sendiri ditugaskan Kaisar Khubilai memimpin perjalanan ke Persia mengantar Putri Kukaucin.

Dua buah kapal lainnya berisi tiga ribu tentara Kaisar yang dipimpin Syik Pie, Ike Mise, Kang-Syang dan Piter untuk menyerang Kerajaan Singasari di Pulau Jawa.

Kaisar Khubilai ingin menghukum Kertanegara, Raja Singasari karena pada 1289 telah menghina Kaisar dengan memotong hidung dan telinga Meng Ki, utusan Kaisar.

Nah, Piter satu di antara pemimpin ekspedisi itu adalah sekondan Marco Polo. Mereka kawan seperjalanan.

Kisah pertemuan Marco Polo dan Piter telah diulas dalam dua serial sebelumnya:

Pimpinan Tentara Monggol saat Menyerbu Jawa Berhutang Nyawa pada Marco Polo

Inilah Debut awal Marco Polo dengan Pimpinan Tentara Monggol yang Menyerang Jawa

Marco dan Piter termasuk dalam lingkaran orang kepercayaan Khubilai Khan. Merujuk catatan harian Marco Polo, begini ceritanya…

Musim panas usai. Rombongan kami mengikuti Kaisar Khubilai ke Istana Khanbalik (Peking). Kami terkagum-kagum. Baru sekali ini melihat istana seindah itu. Dibanding Istana Doge di Venesia sungguh jauh berbeda.

Pun demikian, Kaisar tidak hidup mewah. Ia lebih senang tidur di kemah, di alam terbuka, dan senang bergaul dengan rakyatnya.

Hanya sayang pembantu-pembantunya kebanyakan suka berbuat curang. Karena itulah Bangsa Shin tidak menyukai pemerintahan Bangsa Tartar.

Di Propinsi Shecuan, rakyat berbangsa Shin tidak mau bayar pajak. Beberapa petugas pajak digantung. Kaisar menghancurkan pemberontak dengan kekerasan.

Tapi, pemberontakan lainnya berkecamuk di Propinsi Yunan, Kwangsi, Kwantung dan Kiangshi.

Martino (kawan kecil Marco Polo di Venesia--redmengusulkan agar kami membantu Kaisar. Alasan dia, Bangsa Shin bukan hanya ingin menumpas Bangsa Tartar saja, tapi juga orang asing lainnya. Aku setuju.

Ketika rencana ini kusampaikan kepada ayah, dia menjawab, “itu terserah kalian. Tapi aku dan pamanmu tak akan ikut campur.”

Aku, Martino dan Piter ikut bersama tentara Monggol ke setiap pertempuran. Tapi kami tak pernah berhadapan dengan musuh. Kami cuma merawat yang luka.

 

Ketika perang yang menyita banyak waktu itu usai, Kaisar mengangkat kami jadi pegawai kerajaan. Dalam perjalanan waktu dari tahun ke tahun, Kaisar semakin percaya kepada kami.

Melihat janggut kami sudah mulai tumbuh lebat, Kaisar mengirim kami sebagai utusan Monggol ke Hindustan, Siam, Tsampa, Kamboja serta Annam. Walau pun berat, kami sangat menyenangi tugas ini.

Suatu hari datang utusan dari Negeri Persia menghadap Kaisar.  Membawa kabar permaisuri Pangeran Arogoin telah meninggal. Kaisar Khubilai segera menunjuk kemenakannya, Putri Kukaucin jadi istri Arogoin.

Dulu, ketika kami datang ke Cathay, Putri Kukaucin masih bayi. Kini, putri yang gemuk tapi cantik itu telah berumur delapan belas tahun.

Rambut ayah dan Paman Maffeo telah beruban. Aku merindukan Venesia. Begitu pula Martino. Ayah juga mengatakan, sudah waktunya kembali ke Venesia.

Nah…singkat cerita, Marco Polo pun pamit kepada Khubilai Khan. Sembari pulang ke Venesia, dia diberi tugas mengantar Putri Kukaucin ke Persia.

Dan keberangkatannya, berbarengan dengan sepasukan besar tentara Monggol yang hendak menyerbu Jawa, sebagaimana dirawikan di pangkal cerita di atas.

Pembaca setia...sekadar hidangan penutup kisah ini, berikut kami sajikan lagi secuplik catatan Marco Polo setelah berpisah dengan dua kapal yang hendak menyerbu Jawa…

Kapal kami berpisah di Selat Karimata. Piter dan tentaranya akan bergabung dengan tentara Monggol lainnya yang sudah berpangkalan di Pulau Karimata.

Kami melayari lautan luas mengarungi Selat Malaka. Tiba-tiba mati angin. Rombongan kami terpaksa mendarat di Pulau Swarna (Sumatera) menanti angin.

Tapi, angin yang kami nantikan tak kunjung datang. Kami terpaksa tinggal di pulau ini selama hampir setengah tahun.

Pulau Swarna sangat indah. Penduduknya ramah-tamah. Mereka sudah memeluk Islam. Banyak tumbuh kerajaan kecil. Dan aku sempat bertemu dengan Sultan Malikus Saleh, Raja Samudera Pasei.

Ayah dan Paman Maffeo memborong rempah-rempah di sini. Sambil menjual barang yang kami bawa dari Negeri Monggol. Tembikar yang kami bawa dari Cathay sangat mereka sukai.

Beberapa anggota rombongan, yaitu pengawal-pengawal yang telah mengikuti kami sejak dari Konstantinopel ada yang kawin dengan penduduk setempat.

Tentu saja ketika kapal kami berangkat lagi, mereka tetap tinggal di pulau tersebut. Kata ayah, dia tidak membeli kebebasan mereka ketika bertemu dengan mereka dulu di Konstantinopel. ­­(wow/jpnn)

Loading...

More Articles