Pemuda Aceh Timur Rekayasa Perampokan Karena Terdesak Maskawin, Ini Pengakuannya Kepada Polisi

 Aceh Timur  -   Kepolisian Resor Aceh Timur akhirnya berhasil mengungkap fakta di balik kasus dugaan perampokan disertai penyekapan terhadap KM (24), warga Gampong Alue Dalam, Kecamatan Darul Aman, yang ditemukan warga di pinggir sungai jembatan Gampong Alue Nireh, Kecamatan Peureulak Timur dengan tangan terikat, Selasa, 19 Maret 2020, siang.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Dwi Arys Purwoko, S.I.P., S.I.K., Kamis, 19 Maret 2020, menjelaskan usai melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta meminta keterangan saksi dan korban, pihaknya menyimpulkan perampokan yang dibarengi penyekapan itu adalah sebuah rekayasa semata. KM nekat melakukan rekayasa kasus tersebut karena kebutuhan ekonomi. Dia akan menikah pada Maret ini dengan tunangannya, warga Peudawa. Sedangkan persiapan belum ada. Namun, dia sudah memberikan emas sebagai tanda ikatan sebesar dua mayam dari 13 mayam yang disepakati saat bertunangan pada Juni 2019 silam. 

Menurut AKP Dwi Arys Purwoko, berdasarkan pengakuan awal KM kepada petugas, kejadian ini bermula pada Minggu, 15 Maret 2020, sekira pukul 23.00 WIB. Saat itu, KM menunggu bus di simpang Gampong Sungai Pauh, Langsa, tujuan hendak pulang ke rumahnya di Idi Cut (Darul Aman). Tiba-tiba datang satu unit mobil jenis Honda Jazz ada sekitar enam orang keluar dari mobil langsung turun dan menghampiri KM dan menanyakan kepadanya "apa isi di dalam tas kau," KM menjawab "hanya baju saja". Memperoleh jawaban KM, pelaku langsung memukul bagian belakang kepala sambil menyeret ke dalam mobil dan menutup muka KM hingga pingsan.

"Saat KM sadar sudah berada di pinggir sungai dengan tangan terikat tali di samping jembatan Alue Nireh, Kecamatan Peureulak Timur, ditemukan oleh masyarakat  yang lagi memancing. Warga kemudian melaporkan ke Polsek Peureulak Timur kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak untuk mendapatkan pertolongan. KM mengaku kehilangan uang Rp11 juta dan emas delapan mayam".

Dari keterangan KM tersebut, Polres Aceh Timur membentuk Timsus yang terdiri anggota Opsnal Satintelkam, Satreskrim dan Satresnarkoba melakukan penyelidikan dari TKP awal di wilayah hukum Polres Langsa. Selain menggali keterangan KM, petugas juga mengecek hasil pemeriksaan dokter Rumah Sakit Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak. Keterangan dokter, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh KM.

Akhirnya, kata AKP Dwi, KM mengakui bahwa kejadian tersebut hanya rekayasa. Lalu, KM memberikan keterangan bahwa dirinya keluar dari rumah kontrakan milik Wak Lan yang berlokasi di Kuala Langsa pada Minggu (15/3), sekira pukul 23.00 WIB. Bahkan, dia meminjam uang Rp1 juta pada Wahyu (anak Wak Lan), dengan alasan untuk biaya pulang ke rumah sekaligus mengantarnya ke Simpang Empat Kuala Langsa dengan alasan akan pulang ke Banda Aceh. Karena KM dari awal mengaku tinggal di Banda Aceh, bukan di Idi Cut. 

Setelah Wahyu pergi, KM naik becak menuju ke Lapangan Merdeka, Kota Langsa. Sebelum sampai ke Lapangan Merdeka, KM menjumpai Tengku Kudri untuk membayar utang Rp700 ribu. Sehari semalam KM berada di Musala Bambu Runcing sambil memikirkan perihal sudah dekatnya jatuh tempo untuk menikah. 

 

Kemudian pada Senin (16/3) malam, KM menuju Simpang Komodor dengan maksud mencari kendaraan untuk pulang ke Idi Cut. Namun niatnya diurungkan, karena KM kepikiran jadwal nikah, akhirnya KM memutuskan turun di Masjid Alue Nireh.

Saat di masjid, KM mulai terpikirkan untuk membuat rekayasa seolah-olah dia menjadi korban perampokan dengan kekerasan. Harapannya keluarga calon istri merasa iba dan memberikan waktu lagi untuk pelaksanaan pernikahan.

KM memutuskan menginap lagi di masjid tersebut. Lalu, Selasa (17/3) dini hari, KM berjumpa dengan warga yang baru selesai melaksanakan shalat. Warga tadi menanyakan tujuan KM dan dijawabnya akan memancing di Alur Sungai Aleu Nireh. Kemudian KM meminta tumpangan untuk ikut ke Alur Sungai Alue Nireh.

Sesampainya di Alur Sungai Alue Nireh, KM duduk di Cafe Alni di pinggir sungai itu. Kemudian sekira pukul 08.00 WIB, KM turun ke sungai berguling-guling di lumpur, saat itu dia menemukan seutas tali lantas mengikat tangannya sendiri. "Usai terikat ia teriak meminta pertolongan hingga akhirnya diketemukan warga," jelas AKP Dwi.

Menurut Dwi, dari awal pihaknya mencurigai keterangan disampaikan KM. Karena saat memberikan keterangan KM berbelit-belit. "Setelah diperiksa lebih lanjut, KM pun mengaku bahwa keterangan sebelumnya yang menyatakan telah dirampas uang Rp11 juta dan emas delapan mayam itu tidak ada, hanya rekayasa KM,” Tegas Kasat Reskrim Polres Aceh Timur itu.

(portalsatu.om)

Loading...

More Articles