Peringatan HUT ABRI Paling Kelam pada 5 Oktober 1965

Pagi itu, Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) di sisi Jalan Veteran, sebelah utara Lapangan Monas, Jakarta, telah dipenuhi manusia. Kebanyakan dari mereka berseragam militer. Pada upacara Hari Ulang Tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) tahun itu, di markas pusat Angkatan Darat, ada sesuatu yang berbeda.

“Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 pagi di MBAD. Satu persatu jenazah dinaikkan ke atas panser, didampingi dan dikawal seorang perwira tinggi,” aku Marieke Panjaitan Boru Tambunan dalam DI Panjaitan: Gugur Dalam Seragam Kebesaran (1997: 167). 

Tiap peti jenazah dibawa dengan kendaraan lapis baja. Tiap mendiang itu sudah digelari Pahlawan Revolusi dan dapat kenaikan pangkat satu tingkat. Para pengawal bersenjata juga ada di sana.

Ketika orang-orang sudah ramai, datanglah ke upacara pemakaman itu seorang laki-laki berumur akhir 40-an dengan bertongkat dan dituntun beberapa orang agar bisa berjalan. Dia pernah lama jadi orang nomor satu di MBAD. Tentu saja banyak perwira di sana mengenalnya. Dialah Jenderal Abdul Haris Nasution.

Hari itu, Nasution didapuk menyampaikan sambutan.

“Para prajurit sekalian, kawan-kawan sekalian, terutama rekan-rekan yang sekarang kami sedang lepaskan,” buka Nasution. 

Dia tentu berat mengucapkannya. Dia tengah terpukul hari-hari itu. Bukan lantaran dia baru lolos dari percobaan penculikan (yang bisa membuatnya terbunuh). Hari itu, putri Nasution, yang terkena tembakan gerombolan penculik, sedang sekarat juga.

“Bismillahirrahmanirrahiim,” lanjut Nasution dengan emosional. “Hari ini hari angkatan bersenjata kita, hari yang selalu gemilang. Tapi yang kali ini, hari yang dihinakan oleh fitnahan, dihinakan oleh pengkhianatan, dihinakan oleh penganiayaan.” 

Tapi apapun kondisinya, hari perayaan itu tetaplah dirayakan. “Tetapi hari angkatan bersenjata kita, kita setiap prajurit tetap rayakan dalam hati sanubari kita, dengan tekad kita.”

Satu persatu nama jenazah pun disebutkan. “Jenderal Suprapto, Jenderal Hartono [kemudian ralat] Haryono, Jenderal Parman, Jenderal Panjaitan, Jenderal Sutoyo, Letnan Tendean.” 

Nasution meyakini mereka yang terbunuh sudah mengabdi setidaknya selama 20 tahun untuk Indonesia. Dalam pidato Nasution itu, terselip kalimat “fitnah lebih jahat dari pembunuhan, fitnah lebih jahat dari pembunuhan.”

Di pagi yang muram itu, 5 Oktober 1965, tepat hari ini 53 tahun lalu, Angkatan Darat sangat berduka. Pada 1 Oktober 1965, lima perwira tinggi dan pucuk pimpinan AD diculik lalu dibunuh komplotan Letnan Kolonel Untung. Jenazah mereka ditemukan dalam kondisi buruk dan baru bisa diangkat dari sebuah sumur tua pada 4 Oktober 1965. Hari itu, para jenazah hendak dimakamkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Upacara yang Berlinang Air Mata

Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto juga hadir di situ. Seperti diakui dalam autobiografinya, Soeharto: Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989), ia ingat betul perkataan Nasution tentang fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. 

Tentang para Pahlawan Revolusi itu, Soeharto meyakini bahwa “mereka itu adalah perwira-perwira yang telah mendharmabaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan tanah air dan bangsa” (hlm. 136).

Dari MBAD, iringan jenazah Pahlawan Revolusi lalu melintasi Jalan Merdeka Timur, Cikini Raya, Salemba, Matraman Raya, Jatinegara, Cawang, Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jalan Pasar Minggu, lalu tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

“Jalan yang ditempuh tidak kurang dari 20 kilometer jauhnya, sedang kendaraan pengiring berurut-urutan sepanjang 5 kilometer,” tutur Marieke dalam bukunya (hlm. 167). 

Begitulah perayaan HUT ABRI pada 1965. Sepengakuan Marieke, “Peringatan HUT ABRI ke-20 tanggal 5 Oktober 1965 yang semula direncanakan dengan melakukan parade militer secara besar-besaran berubah menjadi suasana khidmat mengantar jenazah pahlawan yang gugur sebagai tumbal bagi tegaknya Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila.”

Seperti upacara pemakaman lain, acara ini juga berlinangkan air mata. Data yang dihimpun dalam Kronik ’65 (2017: 363-364) menyebut, Nyonya Martadinata, istri Laksamana Martadinata, juga menangis seperti yang lainnya. Putri mendiang Jenderal Ahmad Yani tak disangsikan lagi. Sementara itu, Untung Yani, putra Jenderal Ahmad Yani, yang masih 12 tahun, pingsan ketika jenazah ayahnya dimasukkan ke liang kubur.

Esoknya, 6 Oktober 1965, Jenderal Nasution yang belum sembuh luka di kakinya harus terima kenyataan sedih. Putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, harus mengembuskan napas terakhir. Ade Irma kemudian dimakamkan di dekat Kantor Wali Kota Jakarta Selatan pada hari berikutnya.

 

infografik seri huru hara 5 oktober



Pada 6 Oktober 1965 itu pula, keponakan D.I. Panjaitan, Albert Naiborhu, anak dari Julia boru Panjaitan dengan Th. Naiborhu, juga harus dimakamkan. Albert sekarat karena terluka saat pamannya hendak dijemput pasukan penculik G30S.

Semula, jenazah Albert hendak disemayamkan di rumah Jalan Cut Mutia atau Jalan Hasanuddin. Tapi pihak AD menyarankan di Rumah Sakit Gatot Subroto saja. Pada 6 Oktober 1965, pihak AD memakamkan Albert di lokasi yang sama dengan pamannya, di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

“Seluruh keluarga Panjaitan yang ada di Jakarta mengikuti upacara pemakaman tersebut,” aku Marieke. 

Jadi bukan cuma hilang suami, Nyonya Panjaitan juga kehilangan keponakan. Seperti Nasution, yang tak cuma kehilangan junior, tapi juga putri bungsunya.

“Bung Karno tak hadir dalam kesempatan pemakaman para pahlawan ini,” tutur Soeharto. 

Pada 5 Oktober 1965 itu, Jakarta tidak aman bagi Sukarno. Demi keamanan, Sukarno tetap berada di istana. 

Tahun berikutnya, Sukarno terlihat di makam Pahlawan Revolusi. Menurut pengakuan mantan ajudan Sukarno, Kolonel Maulwi Saelan, dalam buku Dari Revolusi '45 sampai Kudeta '66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa (2001: 316), pada 5 Oktober 1966 sore, Sukarno melakukan ziarah ke makam Pahlawan Revolusi di Kalibata. Di situ, ia menangisi kematian para jenderal.


(tirto.id - Politik) 

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Loading...

More Articles