Prabowo Effect Mendulang Bonus Elektoral bagi Caleg Gerindra di Pemilu Serentak 2019

Oleh : Igor Dirgantara

Hasil rilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terbaru soal elektabilitas Partai Politik menunjukkan bahwa ada 3 partai politik yang meraih suara di atas 10 persen dan otomatis lolos ke Senayan,

Parpol itu adalah PDIP (21,70%) , Golkar (15,30%), dan Gerindra (14,70%). Kemudian dibawahnya adalah PKB (6,20%) dan Partai Demokrat (5,80%) yang selamat dari ambang batas parlemen 4%.

Disusul PAN dengan 2,50%, NasDem dan Perindo 2,30%, PKS 2,20 % dan PPP 1,80%. Sedangkan Hanura mendapat 0,70% disusul PBB 0,40%, Garuda 0,30%, serta PKPI, Garuda dan PSI 0,10%.

Itulah yang disebut Prabowo Effect. Pencapresan Prabowo diprediksi akan tetap mendulang bonus elektoral bagi caleg Gerindra

Diuraikan dari survei tersebut bahwa dengan jumlah margin error 2,9% dan swing voters yang mencapai angka 23,5 persen, dengan demikian masih ada peluang PAN, Nasdem, Perindo, PKS, dan PPP untuk lolos ke Senayan.

 

Namun hal ini sebenarnya juga berlaku untuk posisi 3 Parpol teratas, yaitu PDIP, Golkar dan Gerindra yang masih berpeluang untuk saling bertukar posisi tempat menjadi juara dan runner up.

Golkar saat ini masih harus terus berkonsolidasi pasca kasus Setnov yang dianggap menggerus elektabilitas Partai Golkar.

Otomatis duel el classico potensi terjadi antara PDIP sebagai partai penguasa dan Gerindra sebagai partai oposisi untuk merebut posisi jawara di Pemilu Serentak 2019 nanti.

Fakta ini semakin ditunjang oleh besarnya kemungkinan potensi terjadinya “rematch” antara Prabowo Subianto vs Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2019.

Faktanya, semua lembaga survei memang mengkatagorikan kedua parpol dan kedua tokoh inilah yang punya elektabiltas diatas rata-rata.

Tidak bisa dipungkiri pula, Jokowi terasosiasi kuat dengan PDIP, begitu juga Prabowo dengan Gerindra.

Jika PDIP dan Jokowi masih berada di posisi atas itu adalah hal yang sangat wajar sebagai incumbent.

Namun begitu, Gerindra tampak semakin solid untuk mengusung kembali Prabowo Subianto sebagai Capres 2019 sesuai mandat yang diberikan di rakornas Hambalang tanggal 12 April lalu.

Cottail effect melihat pentingnya figur yang terasosiasi kuat dengan parpol dia berasal. Publik mengidentifikasikan Jokowi dengan PDIP (bukan Golkar, Nasdem, dll).

Begitu juga Prabowo yang dianggap identik dengan Gerindra. Sublimasi Gerindra kepada Prabowo Subianto sangat kuat di mata publik.

Prabowo bisa mengangkat suara Gerindra dari 5,3% kursi di 2009 menjadi 13% di 2014 (naik hampir 8%), dibanding Jokowi yang hanya 2% angkat kursi legislatif PDIP saat itu.

Itulah yang disebut Prabowo Effect. Pencapresan Prabowo diprediksi akan tetap mendulang bonus elektoral bagi caleg Gerindra di Pemilu Serentak 2019.

Begitu juga Jokowi bagi PDIP. Ketepatan nantinya dalam memilih pasangan (cawapres) akan menjadi titik penting pasca deklarasi resmi di bulan Agustus yang akan datang.

Igor Dirgantara adalah Direktur Survey & Polling Indonesia (SPIN).

http://indonesiaraya.co.id

More Articles