Restorasi Ekosistem dan Target Pembangunan Berkelanjutan

Klikmerdeka.com - Arti penting hutan tidak bisa diremehkan. Ia adalah fondasi bagi peradaban dengan kayu, air dan berbagai hasil hutan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Tidak hanya itu, oksigen yang kita hirup dihasilkan oleh hutan. Hutan juga menyediakan obat-obatan, lewat beberapa tumbuhan penting yang kemudian menjadi bahan baku beberapa pengobatan tradisional.

Di samping menjadi habitat untuk tumbuhan, hutan adalah habitat hewan. Hutan memang hanya menutupi 30 persen daratan di permukaan bumi, namun di dalamnya, berdasarkan data World Wide Fund for Nature (WWF), hidup lebih dari 80 persen dari semua spesies flora dan fauna yang ada di dunia — tidak sedikit yang berstatus terancam.

Hutan juga menyediakan perlindungan. Hutan adalah perlawanan terbaik kita terhadap perubahan iklim karena kemampuannya menangkap dan menyimpan gas rumah kaca. Zat berbahaya ini ditangkap dan disimpan oleh hutan, di atas dan di bawah permukaan tanahnya.

Hutan, singkatnya, punya peran mahapenting untuk segala jenis kehidupan di bumi — manusia bukan pengecualian. Kesejahteraan manusia sangat tergantung kepada kesejahteraan hutan. Sayangnya, keberadaannya kini terus dalam ancaman.

Setiap tahun rata-rata 13 juta hektare hutan hilang. Data dari United Nations Development Programme (UNDP) menunjukkan total luas hutan yang hilang pada rentang waktu 1990 hingga 2015 saja mencapai 129 juta hektare — seluas Afrika Selatan. Masalahnya, hilangnya hutan tidak berarti hilangnya pohon saja. Hilangnya hutan juga berarti hilangnya habitat alami dan keanekaragaman hayati. Keduanya begitu penting untuk keseimbangan hidup di bumi, sehingga upaya untuk menghambat atau bahkan menghentikan sama sekali hilangnya kedua hal tersebut menjadi sangat mendesak.

Begitu mendesak sampai-sampai PBB memasukkan usaha pelestarian habitat alami dan keanekaragaman hayati sebagai salah satu dari 17 Tujuan (Goals) dalam Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sebuah agenda pembangunan global untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi.

com-RER melindungi, mengkaji, merestorasi, dan mengelola hamparan hutan gambut utuh seluas dua kali Singapura. Foto: Dok. RAPP

 

Hal tersebut tertuang dalam Tujuan 15, yang bertajuk Menjaga Ekosistem Darat (atau Life on Land): “Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan) dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.”

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi dari Tujuan 15 ini adalah “mendukung penggunaan berkelanjutan”. Artinya, ekosistem daratan, termasuk di dalamnya adalah hutan, tetap bisa digunakan untuk kepentingan hidup manusia. Namun dalam pelaksanaannya, penggunaan berkelanjutan itulah yang harus dilakukan.

Di sini, peran masyarakat dan sektor swasta menjadi begitu penting. Masyarakat, terutama di sekitar hutan yang sangat mengandalkan lahan tersebut, perlu menggunakan lahan hutan dengan bijak. Sementara pihak swasta, yang juga memanfaatkan hutan untuk produksinya, juga perlu memberlakukan sistem produksi dan manajemen lahan yang berkelanjutan.

Dengan manajemen lahan yang berkelanjutan, keutuhan dan daya tahan sumber daya alam masa kini bisa terjaga dan terus terjaga untuk generasi masa depan. Manajemen lahan yang berkelanjutan juga penting untuk menjamin perkembangan sosial dan kemakmuran.

Tentu saja tanggung jawab perusahaan tidak hanya itu. Oleh PBB, perusahaan juga diharuskan meningkatkan usaha mereka untuk mengembalikan hutan yang hilang. Hal ini ditekankan betul-betul karena jika tidak begitu, maka ketersediaan sumber daya dan bahan baku di masa depan tidak terjamin.

RER, Proyek Restorasi Ekosistem di Sumatera

Inilah yang sedang dilakukan di Indonesia lewat Restorasi Ekosistem Riau (RER), yang diinisiasi oleh APRIL Group, salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia.

Dijalankan sejak 2013, proyek restorasi hutan raksasa yang kemudian menjelma menjadi gerakan terbesar di Sumatera ini berkomitmen menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati dengan melindungi, mengkaji, merestorasi, dan kemudian mengelola keanekaragaman hayati di hamparan hutan gambut utuh terbesar di Sumatera.

Mencakup wilayah Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, luas area RER mencapai 150 ribu hektare — dua kali luas Singapura. Dipandu oleh Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (SFMP 2.0) perusahaan, APRIL Group mewujudkan misi merestorasi satu hektare hutan alami untuk setiap hektare lahan yang digunakan sebagai hutan tanam. Sebagai bentuk komitmennya, APRIL menginvestasikan total US$100 juta dalam kurun waktu 10 tahun untuk upaya restorasi dan konservasi.

“Kami punya empat pendekatan, yaitu melindungi, menilai, restorasi, dan mengelola. Prioritas utama kami adalah melindungi, karena jika kita tidak memproteksi [hutan], orang-orang mungkin akan merusaknya,” terang Nyoman Iswarayoga, External Affairs Director RER.

com-Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis), merupakan salah satu dari empat spesies kucing liar yang tertangkap oleh kamera jebak pada tahun 2018. Diketahui bahwa tiga dari lima jenis kucing liar sudah teramati di Semenanjung Kampar. Foto: Dok. RAPP

 

Setelah lebih dari lima tahun berjalan, RER pun mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam hal keanekaragaman hayati, perubahan diperlihatkan lewat terus meningkatnya jumlah spesies burung di Semenanjung Kampar. Menurut catatan Birdlife International tahun 2018, terdapat 304 spesies burung di Semenanjung Kampar, meningkat dari 128 spesies yang tercatat dalam sensus yang mereka lakukan sebelumnya.

RER juga berhasil mengidentifikasi sebanyak 759 spesies pada 2018. Perinciannya,71 spesies mamalia, 304 spesies burung, 107 spesies amfibi dan reptil, 119 spesies pohon, 69 spesies non-pohon dan 89 spesies ikan ditemukan di kawasan RER. Sebagian flora dan fauna yang berada di kawasan RER merupakan jenis yang dilindungi, baik secara global maupun nasional.

com-Semenanjung Kampar ditetapkan sebagai Area Penting Burung oleh BirdLife International pada tahun 2003. Sebanyak 304 spesies burung telah teridentifikasi (meningkat dari 128 spesies yang sebelumnya diidentifikasi). Foto: Prayitno/Dok. RAPP

 

“Sebanyak 6 dari 9 spesies rangkong teridentifikasi di kawasan RER, salah satunya rangkong badak yang statusnya rentan,” terang Nyoman.

Namun, RER tidak hanya sebatas merestorasi hutan di lahan gambut dan menjadi rumah bagi flora dan fauna.

Bertetangga dengan 17 ribu orang di Semenanjung Kampar dan 24 ribu orang di Pulau Padang, RER turut memfasilitasi pendapatan tambahan bagi masyarakat. Dalam kemitraannya, RER bekerjasama dengan Bidara memberikan pendampingan kepada kelompok tani untuk mengelola lahan pertanian tanpa bakar. RER juga mengedukasi cara menangkap ikan yang berkelanjutan kepada nelayan.

com-RER bekerja sama dengan 21 nelayan dari Teluk Meranti dan Pulau Muda untuk memastikan para nelayan memiliki akses yang aman serta mengedukasi menangkap ikan yang berkelanjutan. Foto: Dok. RAPP

 

Dengan edukasi tentang pentingnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta fasilitas yang diberikan, masyarakat sekitar area RER bisa menjalani pekerjaan dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan.

Terjalinnya kemitraan antara perusahaan dan program serta masyarakat sekitar, tentu saja, adalah kabar baik. Karena pada akhirnya, tercapai atau tidaknya Tujuan 15 sangat bergantung kepada kerja sama semua pihak.

Artikel ini merupakan hasil kerja sama dengan RAPP. ( KMP )

Loading...

More Articles