Saat Presiden Kabila Dibunuh Pasukan Remaja yang Dibentuknya

 Tepat pada tanggal ini, 19 tahun lalu Presiden Republik Demokratik Kongo Laurent Desire Kabila ditembak pengawal-pengawalnya yang masih berusia remaja. Berita kematiannya baru diumumkan secara resmi dua hari kemudian dengan menyebut sang presiden wafat di pesawat saat dalam perjalanan menuju Harare, Zimbabwe.

Peristiwa tragis itu terjadi di istana kepresidenan, Kinshasa. Saat itu Kabila sedang berdiskusi dengan seorang penasihat ekonominya. Seorang pengawalnya yang masih berusia 18 tahun masuk menghadap seraya membungkuk. Dilansir The Guardian, Kabila menyangka remaja itu ingin berbicara. Namun sang pengawal malah mencabut pistol lalu menembak bosnya sebanyak 4 kali.

Penyerang segera lari bergabung dengan kawan-kawannya di luar. Istana pun gempar. Pengawal Kabila yang mengejar menembak mati salah satu di antara mereka. Menteri Kehakiman Kongo Mwenze Kongolo mengeluarkan pernyataan bahwa Kabila ditembak mati pengawalnya bernama Rashidi Kasereka.

Pihak istana sempat membantah peristiwa tersebut. Ini membuat cerita penembakan itu menjadi simpang siur. Kantor berita Belgia, Belga yang mengutip pernyataan diplomat Kongo di Brussels menyebut penembakan itu dilakukan Deputi Menteri Pertahanan, Kolonel Kayembe yang kecewa karena diberhentikan Kabila.

Kabar lainnya menyebut Rashidi bukanlah pelaku utama penembakan. Rashidi hanya bertugas melindungi temannya yang melakukan eksekusi. Sumber The Guardian menyebut sang penembak asli yang punya inisial Le Monde alias Abdoul berhasil melarikan diri meninggalkan istana bersama kelompoknya dengan menggunakan enam kendaraan. Para penyerang ini kemudian berpisah. Abdoul lari ke negara tetangga.

 

Kelompok penyerang ini tergabung dalam tentara bentukan Kabila bernama KadogoKadogo merupakan bahasa Swahili untuk prajurit anak-anak. Kelompok ini didirikan Kabila saat dirinya memimpin pemberontakan menggulingkan Presiden Zaire Mobutu Sese Seko pada 1997. Zaire kemudian berganti nama jadi Republik Demokratik Kongo dan Kabila naik jadi presiden.

Pada sejumlah orang, Kabila menyatakan sangat percaya pada para anggota Kodogo. "Mereka tidak akan pernah melawan saya. Karena mereka telah bersama saya sejak awal. Mereka adalah anak-anak saya," ujar Kabila seperti yang dikutip oleh The Guardian dalam artikel Revealed: How Africa's dictator died at the hands of his boy soldiers.

Ternyata, Kabila salah perkiraan. Sekelompok anggota Kadogo berkumpul menyusun rencana membunuhnya pada awal Januari di Brazzaville. Mereka menamakan rencana itu dengan Operasi Mbongo Zero. Mbongo dalam bahasa Swahili berarti kerbau yang ditujukan bagi Kabila. Dendam pada Kabila jadi akar pemberontakan ini. Kabila disebut menganggap rendah tentara anak-anak itu.

 

Kami selalu bersama Kabila. Namun dia memperlakukan kami dengan buruk. Kami bahkan tidak punya gaji, semua uang datang darinya. Kami jadi seperti pengemis," ujar Abdoul. Pembunuhan ini melibatkan puluhan anggota Kadogo yang juga anggota pengawal presiden. 

Setahun setelah penembakan, 80 orang diadili karena disebut terlibat dalam pembunuhan yang terjadi di negara yang terletak di kawasan Afrika Tengah itu. Semua dijatuhi hukuman mati, tanpa hak untuk naik banding.

Loading...

More Articles