Sya’ban Mengagungkan Niat, Ramadhan Memetik Keberkahan

Oleh: Ade Arfa Putra Ramadhan

SYA’BAN di hadapan mata, persiapan ramadhan haruslah menjadi prioritas untuk semua Muslim, sebelum menapaki bulan suci Ramadhan.

Dalam kitab Ihya’ Ulumid-Din  Imam Al-Ghazali menyebut adanya hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan, dan tiap minggu.

Terkait siklus bulanan, Imam Al-Ghazali memasukkan bulan Sya’ban ke dalam kategori bulan-bulan utama (al-asyhur  al-fadhilah) di samping Rajab, Dzulhijjah, dan Muharram.

Ada hal yang istimewa dalam bulan Sya’ban. Ia menjadi jembatan menuju bulan yang paling diagung-agungkan. Itulah sebabnya mengapa bulan ini dikatakan “sya’ban”.

 

Sya’ban yang berasal dari kata syi’ab bisa dimaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya, bulan Sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah  untuk hambanya dalam menapaki, memantapkan diri, sebagai persiapan menyongsong bulan puncak bernama ‘Ramadhan’.

 

Sebagian besar para ulama berkesimpulan bahwasanya menjadikan syaban sebagai bulan tempat menempa dan mengukur kebiasaan, bulan untuk berlatih kekuatan yang dimiliki oleh seorang muslim.

Bagaimana tidak, syaban menjadi skala prioritas terhadap aktifitas seorang muslim untuk kemudian menanamkan niat sedalam dalamnya agar mengambil keberkahan saat ramadhan yang sudah menunggu didepan mata.

Pada bulan Sya’ban Allah SWT mengangkat amal hamba. Ada momen diangkatnya amal secara pekanan yaitu pada hari kamis, dan ada yang sifatnya tahunan yaitu pada bulan sya’ban.

 

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra, beliau berkata: “Nabi Muhammad saw tidak banyak berpuasa dalam satu bulan kecuali pada bulan sya’ban. Maka aku bertanya kepadanya: “Aku tidak mendapatimu wahai Rasulullah saw banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban? Rasulullah saw bersabda: “Itu adalah bulan yang dilupakan manusia antara Rajab dan Ramadhan, dia adalah bulan diangkatnya amal kepada Allah SWT, dan aku senang jika amalku diangkat dalam keadaan berpuasa”. (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Memperbanyak berpuasa ketika diangkatnya amal menjadi sunah Rasulullah saw. Sebagaimana ditegaskan lagi dalam hadits lain yang diriwayatkan Aisyah ra, beliau berkata: “Aku tidak melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa dalam satu bulan kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau mengerjakan puasa lebih banyak dari yang dilakukan pada bulan Sya’ban, beliau pernah berpuasa setiap hari selama bulan Syaban, dan beliau juga pernah berpuasa di bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja tidak berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan banyak lagi yang lain yang menguatkan bahwasanya keistimewaan Syaban bukanlah hal yang dapat disangkal. Selayaknya sebagai muslim yang taat dan patuh kita menjadikan titah itu sebagai penyemangat dan penumbuh keikhlasan dalam amal yang akan dalam rangka menjadikan keimanan kepada Alloh semakin kuat.

Hendaknya setiap muslim menjadikan semua titah itu menjadi sebuah kekuatan untuk melaksankan amal, karena tidak ada lagi yang menjadi sumber kekuatan yang lain ketika iman telah bertumbuh dalam diri manusia dan mengikhlaskan diri dalam beramal yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan keridhoan Alloh dan juga sebagai hadiah terbesar adalah ketika disampaikannya kita semua ummat islam pada Ramadhan yang penuh berkah.

Persiapan untuk menghadapi Ramadhan pun sangat unik ketika kita pernah mendengar sahabat-sahabat Rasul, para salafusshalih yang terdahulu. Bagaimana istimewanya ramadhan di hati mereka. Ada yang sudah mengazzamkan diri mereka untuk mempersiapkan hingga jauh-jauh hari yaitu 6 bulan sebelum masuk ramadhan, jadi dalam kamus kehidupan mereka membagi 12 bulan dalam 1 tahun itu dengan 2 bagian. 6 bulan pertama adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi ramadhan dan 6 bulan berikutnya membiasakan diri dengan amal saat ramadhan yang telah mereka lewati.

Para sahabat yang lainnya punya kiat-kiat lain dalam menghadapi  ramadhan ini. Mereka akan mengibaratkan syaban adalah bulan khusus untuk mempersiapkan perlombaan yang mana mereka menyibukkan diri mereka untuk berlatih secara maksimal untuk kehadiran perlombaan yang akan mereka hadapi.

Dimulai dengan menambah kuantitas amal yaumiyahnya sampai pada memperhatikan bagaimana kualitas amal yang telah mereka kerjakan perhari. Hingga akhirnya ketika memasuki ramadhan mereka akan menyambutnya dengan ceria dan senyuman optimis untuk melewati dengan baik lomba demi lomba yang akan mereka hadapi nantinya.

 

Dan akhirnya ramadhan sebagai bulan impian menjadi ladang amal dan ladang keberkahan untuk ummat Muslim sedunia. Bersuka hati dalam menyambutnya mempunyai ganjaran tersendiri yang Alloh limpahkan pada hamba-hambaNya.

Syaban menanam niat adalah merupakan sebuah hal yang harus diikhtiarkan dan diistiqomahkan oleh setiap muslim, karena itu syaban yang kemudian menjadi bulan tempat berlatih dan mengazzamkan niat. Dan ramadhan dapat dirasakan dengan nikmat, hikmat dan penuh berkah. Semoga kita semua disampaikan pada Bulan Ramadhan yang Mulia. Aamiin. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari RENUNGAN di luar tanggung jawab redaksi Islampos. 

Loading...

More Articles